السـلام عليكم و رحمة الله وبركا ته

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد

Rabu, 26 Juni 2013

Nasehat Syaikh Sa'ad bin Nashir Asy-Syatsri Kepada Salah Seorang Pemilik Hotel


Meskipun hanya bertemu dengan dengan pemilik hotel tatkala sarapan pagi dan makan siang akan tetapi dalam acara makan tersebut syaikh Sa'ad hafidzohulloh tetap menyempatkan waktu untuk memberikan nasehat-nasehat berharga kepada sang pemilik hotel.
Diantara nasehat-nasehat tersebut adalah :

PERTAMA :
"Kalau aku lupa padamu maka Allah tidak akan melupakanmu, tidak melupakan kebaikanmu"
Demikian perkataan Sykh Sa'ad Asy-Syatsry hafidzohulloh kepada si pemilik hotel tatkala kami sarapan pagi bersama.
Ketika sang pemilik hotel mengabarkan rencananya untuk umroh di bulan ramadhan, maka syaikh mengundangnya untuk menemuinya di kajian beliau di masjidil haram, ba'da subuh dan ba'da maghrib. Serta merta pemilik hotel berkata, "Syaikh nanti mungkin lupa sama saya karena banyaknya peserta pengajian di masjidil haram".
Syaikhpun berkata : "Jika aku lupa maka Allah tidak akan melupakanmu, tidak lupa dengan kebaikanmu"

Kamis, 13 Juni 2013

Umar bin Khaththab dan Seorang Badui

Apakah istri anda pernah marah? berkata atau berlaku kasar terhadap anda? Pada saat-saat tertentu, wanita memang bisa berubah menjadi sangat emosional. Misal saat haid dan mengandung, atau bila kecapekan. Bahkan seorang istri shalihah pun, kadang bisa hilang kendalli, menguap kelembutannya. Bila anda merasa sesak dan panas hati oleh kelakuannya itu, ada baiknya anda membaca kisah berikut ini.

Diriwayatkan bahwa seorang badui datang untuk mengadu kepada khalifah Umar bin Khatab, untuk mengadukan kepadanya, mengenai buruknya akhlak istrinya. Ketika sampai dirumah Umar dan mengetuk pintunya, dia mendengar istri Umar meninggikan suaranya dihadapannya. Maka orang badui itu berpaling kembali, sambil berkata dalam hatinya, "Celaka aku, jika demikian keadaan Amirul Mukminin, maka bagaimana halnya denganku?"

Rabu, 12 Juni 2013

Hakikat Keindahan


Suatu hari, seseorang bertanya kepada al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah, “Wahai Abu Sa’id, pakaian apakah yang paling anda sukai?”
Beliau rahimahullah menjawab, “Yang paling tebal, paling kasar, dan yang paling rendah di mata manusia.”
Si penanya berkata, “Bukankah ada riwayat bahwasanya ‘Allah itu Mahaindah dan menyukai keindahan?”
Beliau rahimahullah menjawab, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya aku telah menganut tidak hanya satu mazhab. Seandainya keindahan di sisi Allah adalah pakaian, niscaya orang-orang fajir (jahat) lebih memiliki kedudukan di sisi-Nya daripada orang-orang yang baik. Hanya saja, keindahan itu adalah mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan amalan ketaatan, menjauhi kemaksiatan, berakhlak mulia, dan berbudi pekerti yang baik. Seperti itu pula hadits shahih yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia.”
(Mawa’izh lil Imam al-Hasan al-Bashri, hlm. 83)
Sumber: Majalah Asy Syariah no. 67/VI/1432 H/2010, rubrik Permata Salaf.

Taqwa yang Sempurna


Abu Darda bin Qais Al-Asy’ari [1] mengatakan,
“Takwa yang sempurna adalah bertakwa kepada-Nya sampai pada masalah sekecil apa pun. Sampai ia meninggalkan perkara yang ia ketahui halal, karena takut seandainya perkara tersebut ternyata adalah haram. Yang mana takwa ini akan menjadi penghalang antara ia dan perkara-perkara yang haram. Sesungguhnya Allah telah menerangkan kepada seluruh hamba-Nya, bahwa mereka akan kembali kepada Allah,
‘Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.’ (QS. Al Zalzalah: 7-8)
Maka janganlah kalian memandang remeh kebaikan sekecil apa pun untuk kalian amalkan dan jangan pula memandang remeh perbuatan dosa sekecil apa pun untuk kalian tinggalkan.” [Jami'ul 'Ulum wal Hikam 1/400]
Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 03 vol. 01 1432 H – 2011 M, rubrik Petuah.

Mewaspadai Sikap Sombong karena Ilmu


Wahb bin Munabbih rahimahullahu berkata, “Sesungguhnya ilmu dapat membuat sombong sebagaimana harta.”
Masruq rahimahullahu berkata, “Cukuplah seseorang dikatakan berilmu jika ilmu tersebut membuahkan rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebaliknya, cukuplah seseorang dianggap bodoh tatkala membanggakan diri dengan ilmunya.”
Abu Wahb al-Marwazi rahimahullahu berkata, “Aku bertanya kepada Ibnul Mubarak tentang kesombongan. Beliau menjawab, ‘(Kesombongan) adalah engkau meremehkan dan merendahkan manusia.’ Kemudian aku bertanya kepadanya mengenai ujub (bangga diri). Beliau pun menjawab, ‘(Ujub) adalah engkau memandang bahwa dirimu memiliki sesuatu yang tidak ada pada selainmu’.”

Ilmu Bukan Banyaknya Riwayat & Ucapan


Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya, orang-orang terdahulu (para ulama salaf, -red.) diam karena ilmu. Mereka pun menahan diri (dari sesuatu) karena mata hati yang tajam. Sungguh, mereka lebih mampu meneliti (sebuah masalah) kalau mereka mau melakukannya.”
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Sungguh, banyak orang belakangan yang tertipu dengan hal ini. Mereka menyangka bahwa siapa yang banyak bicara, debat, dan perbantahannya dalam masalah agama, berarti dia lebih berilmu. Ini adalah murni kebodohan. Lihatlah para sahabat senior dan ulama mereka, seperti Abu Bakar, Umar, Ali, Mu’adz, Ibnu Mas’ud, dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum. Betapa sedikit ucapan mereka dibandingkan dengan ucapan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, padahal mereka lebih berilmu. Ucapan generasi setelah tabi’in pun lebih banyak daripada ucapan generasi sahabat, padahal generasi sahabat lebih berilmu. Ucapan generasi setelah tabi’in pun lebih banyak daripada ucapan generasi tabi’in, padahal generasi tabi’in lebih berilmu. Jadi, ilmu bukan karena banyaknya riwayat dan ucapan, melainkan cahaya yang diletakkan di kalbu. Dengan cahaya itu, seorang hamba akan mengenal dan bisa membedakannya dengan kebatilan….”
(Lammud Durril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur, hlm. 82-83)
Sumber: Majalah Asy Syariah no. 88/VII/1433 H/2012, rubrik Permata Salaf.

MENJAGA PANDANGAN SERTA UCAPAN


Abud Darda' rahimahullah berkata:
"Wahai anakku, janganlah engkau mengikuti pandanganmu kepada setiap apa yang engkau lihat pada manusia. Sesungguhnya barangsiapa mengikuti pandangannya kepada setiap apa yang terlihat dari manusia, akan panjang kesedihannya dan tidak akan berkurang kemarahannya. Barangsiapa tidak mengetahui nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala kecuali pada makanan atau minumannya, sungguh sedikit ilmunya dan telah datang adzabnya. Barangsiapa yang tidak merasa cukup dari dunia, maka tidak ada dunia baginya." (Az-Zuhd karya Al-Imam Ahmad, hal. 196)
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
"Sungguh aku telah bertemu dengan beberapa kaum (yakni ulama), yang bila salah seorang mereka duduk bersama sekelompok orang, tentu mereka akan menganggapnya orang yang lemah -karena diamnya yang lama-. Padahal dia sama sekali tidak lemah, justru dia seorang muslim yang faqih." (Shahih Az-Zuhd, Waki' ibnul Jarrah, hal. 55)
(Diambil dari At-Tajul Mafqud, hal. 93 dan 96)
Sumber: Majalah Asy Syari'ah, no.39/IV/1429 H/2008, rubrik Permata Salaf.